Wisata Kafe Literasi Berkonsep Alam Terbuka

Wisata Kafe Literasi Berkonsep Alam Terbuka

Wisata Kafe Literasi Berkonsep Alam Terbuka, – Kafe biasanya jadi tempat favorit di berbagai kalangan, mulai dari pelajar, mahasiswa sampai orang dewasa. Kafe banyak dipilih untuk berkumpul, entah untuk mengobrol berjam-jam atau sambil mengerjakan tugas dan pekerjaan hingga rapat.

Makin sedikit ruang terbuka hijau di Jakarta bisa disiasati dengan mengunjungi kafe. Nuansa alam yang dihadirkan membuat suasana menjadi lebih rileks. Anda bahkan bisa merasa seperti sedang vakansi di luar kota.

Kidung ‘Teman Hidup’ -dipopulerkan oleh Tulus- menggema lembut dari pengeras suara yang ada di dalam sebuah balai bekas kandang lembu. Senandungnya terdengar sayup di antara desiran angin, namun mampu menembus ke telinga.

Berteman kopi arabika varian tebu, aku sesekali larut dan mengikuti bait-bait yang didendang penyanyi solo pria Indonesia kelahiran Bukittinggi, Sumatra Barat tersebut, sambil menikmati sore berselimut nimbostratus.

Aku tak sendiri menikmati ketenangan di lahan seluas tak sampai dua hektar yang berlantai rerumputan ini. Ada juga beberapa pengunjung lainnya yang duduk di kursi dan meja berbahan bekas batang-batang pohon yang telah didekor sedemikian rupa. Mereka larut dalam tawa, canda, dan perbincangan dunia, namun ada pula di antaranya yang menyibukkan diri memasak menggunakan peralatan tradisional dengan perapian kayu.

Melansir http://downloadjoker123.org/, Kamp Biawak, itulah nama tempat yang sedang kusambangi ini. Sebuah kafe dengan konsep alam terbuka yang terletak di bantaran Sungai Lamnyong. Lebih tepatnya, kafe milik Iskandar, ini berada di Gampong Limpok, Kecamatan Darussalam, Kabupaten Aceh Besar.

Tempat ini terbilang baru. Suami dari Asmaul Husna Arif tersebut memulai bisnis minuman dan makanan di kafe yang ia kelola saat ini pada September 2019 silam. Tentunya, ia tak sendiri merintisnya, Iskandar dibantu dua rekannya, yakni Iqbal dan Riza.

Kamp Biawak berawal dari tempat komunitas literasi membedah dan berdiskusi tentang buku

Kamp Biawak, diceritakan Iskandar, awalnya bukanlah sebuah kafe seperti saat ini. Kala itu, tempat tersebut hanyalah sebuah hamparan rerumputan. Cuma ada berdiri satu bangunan kecil dari kayu di tengah-tengahnya, yakni kandang lembu milik warga.

Tempat yang berada di bantaran Sungai Lamnyong tersebut, kemudian disewa oleh Iskandar dan teman-temannya, namun bukan untuk membuka kafe melainkan sebagai wadah untuk komunitas literasi. Lebih tepatnya, sebagai wadah untuk tempat berdiskusi dan membedah buku di kalangan mereka.

“Muncul kamp ini bukan berawal dari bisnis, tetapi muncul karena sebagai tempat komunitas-komunitas atau anak muda berkumpul sekedar berdiskusi dan bedah buku atau syarah buku,” ujar Iskandar bercerita.

Berawal dari kebiasaan dan memanfaatkan kekurangan hingga menjadi ciri khas dari Kamp Biawak

Diskusi dan bedah buku sambil menikmati kopi beserya cemilan sederhana, merupakan suatu kebiasaan dari anak-anak komunitas literasi di Kamp Biawak. Ini kemudian berlanjut menjadi sebuah menu favorit yang dimiliki dari kafe berkonsep alam terbuka tersebut.

“Berawal dari konsep anak-anak -komunitas- yang sering membawa kopi kemari dan membawa tebu, jadinya kita buat konsep racikan kopi dan tebu,” ujar pria yang memang dikenal aktif dalam komunitas membaca dan berdiskusi buku itu.

Sadar dengan pengunjung yang semakin ramai ke kafe dan tak hanya dari kalangan komunitas mereka saja. Iskandar dan dua rekannya pun coba menambah menu berupa makanan. Kekurangan finansial lagi-lagi menghampiri mereka. Ditambah ketidakmampuan Iskandar dan kawan-kawan untuk membuat makanan sesuai selera pengunjung sehingga timbul inisiatif membuat konsep paket memasak sendiri bagi pengunjung.

“Itu karena kita tidak bisa masak, jadinya konsepnya pembeli yang memasak,” kata pria lulusan master Seni di Institusi Seni Indonesia di Yogyakarta tersebut.

Menutupi kekurangan lainnya berupa bahan-bahan untuk memasak, Iskandar memanfaatkan apa yang dimiliki warga sekitar kafe. Misalnya, ia membeli keperluan seperti ayam, bebek, serta bumbu lainnya langsung dari warga.

Bahan-bahan itu dibelinya ketika ada pemesanan paket memasak. Oleh karena itu, Kamp Biawak menerapkan konfirmasi paket terlebih dahulu bagi pengunjung yang ingin mencoba memasak sendiri, paling telat empat jam sebelum kafe dibuka. Tujuaannya agar mereka bisa memesan segala keperluan.

Walau di alam terbuka dan hanya menyediakan kayu sebagai perapian. Temblikar serta perlengkapan tradisional lainnya untuk memasak, ternyata konsep tersebut terbilang sukses. Paket memasak sendiri bagi pengunjung menjadi nilai jual dan ciri khas dari Kamp Biawak.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *